Tiga Hal Berikut ini Tidak Akan Kamu Temukan Di Daratan Flores

Tiga Hal Berikut ini Tidak Akan Kamu Temukan Di Daratan Flores

Kali ini kami tertarik untuk menulis tiga hal berikut ini, Ini berawal dari banyaknya pertanyaan penasaran para wisatawan yang datang dari luar Pulau Flores dan NTT pada umumnya.

Hingga hari ini saya memutuskan untuk menulis satu artikel khusus untuk membahasnya, tapi mungkin ini lebih tepatnya menyampaikan apa yang diceritakan oleh beberapa wisatawan asal Ibu Kota Jakarta beberapa hari yang lalu. Mari kita mulai membahasnya satu per satu :

No.1 Preman

Tidak sedikit para wisatawan yang penasaran akan hal ini, bagi wisatawan yang berasal dari Ibu kota Jakarta, dan kota - kota besar lainnya di Negeri ini. Rasanya seperti tidak percaya dengan apa yang mereka temui di daratan Pulau Flores, dan NTT pada umumnya, Tidak pernah melihat ada kelompok Preman.

Padahal menurut mereka hampir 60 % Jalanan antar satu kota ke kota lainnya di pulau Flores selalu dikelilingi Hutan, Jalanan yang berliku, dan menanjak.

Tapi meskipun demikian hal ini rupanya tidak mengundang siapapun untuk menjadi pelaku kejahatan, tidak hanya mengenai jalanan yang berliku dan berhutan. Tapi juga di kota - kota dan semua Terminal bus yang ada di daratan Flores.

Padahal mohon maaf  "Hampir semua kota-kota besar yang ada di Negeri ini banyak sekali anak-anak dept Colector, jasa keamanan atau pengawal, dan bahkan yang sering kita lihat menduduki lahan sengketa yang ada di Jakarta.

Mayoritas anak-anak yang berasal dari Flores, dan NTT pada umumnya dan juga dari Ambon/Maluku. Memang sih ini soal keberanian atau nyali, tapi bukan ini yang mau saya bahas.

Bahkan ada 6 orang sahabat saya yang tinggal di Jakarta yang berasal dari Flores, 2 orang dari Kupang, 4 orang dari Maluku, dan 2 orang dari Papua.

Mereka sering sekali mengambil pekerjaan yang penuh rintangan seperti diatas yang tadi saya sebut. Dan ketika 5 tahun yang lalu tepatnya tahun 2014 saya jalan-jalan liburan ke Ambon bersama dengan teman-teman saya, hal serupa juga yang saya temui di sana.

Tidak ada kelompok Preman atau pemalak jalanan, Sama persis disini di Tanah Flores. Justru mayoritas masyarakat yang ada di Ambon sana dan disini NTT pada ramah-ramah, dan murah senyum, mereka selalu menyapa kami dengan ramah dan penuh tulus.

Saya tidak tahu pasti apa yang membuat mereka seperti itu, tapi menurut saya ini hal yang sangat menarik mengingat Flores adalah destinasi wisata Internasional. Jadi warga setempat atau kita semua harus bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi siapa pun yang mengunjungi Flores, demikian juga di Maluku sana.

No.2 Pengamen/Musisi Jalanan

Ini juga tidak kalah menarik, karena pada dasarnya hampir seluruh kota di Indonesia mustahil rasanya jika tidak ada musisi jalanan atau pengamen, pengamen sebetulnya anak-anak yang punya kemampuan lebih dari manusia lainnya.

Dan biasanya untuk mengembangkan kemampuan itu tidak sedikit dari mereka yang nenelusuri kota-kota, musisi jalanan ini sebenarnya tidak mengganggu ketertiban umum, justru mereka memberi kita hiburan.

Tapi terkadang cukup banyak juga dari mereka yang sering kali melakukan pemaksaan, berbeda dengan daratan Flores ini, meskipun di pulau Flores memiliki 8 Kota kabupaten.

Saya tidak menemukan pengamen naik turun angkot, naik turun bis, atau nongkrong disetiap terminal. Ini pemandangan yang cukup asing, meskipun demikian ini bukan berarti anak-anak Flores tidak bisa menyanyi atau main alat musik.

No.3 Pengemis

Pengemis atau tukang minta-minta, Jika anda mengunjungi Flores entah anda masuk dari Labuan Bajo, atau Larantuka ujung timur pulau Flores.

Silakan anda perhatikan disetiap pelabuhan atau di luar Gerbang Bandara, saya pastikan anda tidak akan menemukan satu pun pengemis yang menelusuri jalanan kota.

Kalau tidak puas dengan hal itu, silakan mengunjungi beberapa Pasar, Terminal dan juga kota-kota yang ada di Pulau Flores. Jawabannya tetap sama, Tidak ada!

Pemandangan seperti ini membuat saya mulai berfikir dan sering bertanya - tanya, Apa sebabnya tidak adanya keberadaan para Preman, Musisi Jalanan, dan Pengemis di Tanah Flores?

Apakah memang para Pemerintah Daerah (Pemda) Setempat sepakat membuat aturan khusus untuk melarang keberadaan mereka ? padahal secara ekonomi masyarakat Flores belum bisa dikatakan cukup.

Mengingat berbagai macam fasilitas seperti kesehatan dan pendidikian belum 100% terpenuhi. Tapi meskipun ada persoalan demikian, nampaknya itu bukan alasan bagi masyarakat Flores untuk menjadi salah satu yang diatas.

Berhubung rasa penasaran saya semakin tinggi, saya pun memberanikan diri untuk menanyakan lansung ke beberapa orang sopir angkot yang ada di kota Maumere, 2 orang tukang bensin eceran di kota Ende, dan 3 orang petani kopi di kota Ruteng.

Dan jawaban dari mereka membuat saya cukup terkejut dan sangat kagum. Bagi mereka menjadi seorang petani kebun atau peternak babi/sapi adalah pekerjaan yang mulia, dan jauh lebih terhormat.

Ketimbang harus menjadi pengemis yang selalu mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Selain itu peran aktif Pemda, para Tokoh Adat dan Toko Agama juga membawa dampak yang positif untuk kami semua yang ada di Flores ini, cerita sang tamu.

Harapan kita semua

Saya rasa harapan kita semua sama, baik Masyarakat Flores maupun para pengunjung. Yaitu Semoga ini akan berlangsung selamanya di Pulau Flores, sehingga dapat memberi rasa aman dan nyaman untuk siapapun.

Semoga para Pemda, Tokoh Adat,Tokoh Agama, Aparat penegak hukum, serta seluruh lapisan masyarakat Flores dari Labuan Bajo sampai Adonara Flores Timur, mampu menjaga ini.

Jangan beri ruang untuk preman, pengamen dan pengemis. Ini sebenarnya bukan membenci mereka, tapi ini demi keberlangsungan Hidup yang lebih baik di Tanah Flores, mengingat Pulau Flores merupakan destinasi wisata unggulan dan super prioritas. Semoga bermanfaat.

Comments